<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858</id><updated>2011-12-14T10:37:37.010+07:00</updated><category term='SOSIAL POLITIK'/><category term='Pendidikan'/><category term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>Telanjang Kaki</title><subtitle type='html'>Lebih Merasakan dan Peka Terhadap Keadaan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-8564931852934898754</id><published>2011-06-08T10:40:00.001+07:00</published><updated>2011-06-08T10:52:58.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL POLITIK'/><title type='text'>Me-Pancasila-kan kembali Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Gf2966ESJF8/Te7x4YgFvpI/AAAAAAAAADo/40YLtqSyrBw/s1600/images1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Gf2966ESJF8/Te7x4YgFvpI/AAAAAAAAADo/40YLtqSyrBw/s1600/images1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya. Salah satu keunikan ini yang kemudian diabadikan dalam semboyan bangsa kita “ &lt;i&gt;bhinika tunggal ika tan hanna darma mangroa” &lt;/i&gt;- &amp;nbsp;berbeda-beda tetapi tetap satu jua untuk tujuan yang sama. Telah lama kita menjadikan pancasila sebagai falsafah hidup dan idieologi bangsa dan menjadi salah satu pilar penting bagi tegaknya negara kesatuan Indonesia, tetapi marilah sedikit kita menilik kembali, apakah pancasila sebagai sebuah ideologi bagsa telah benar-benar mendarah daging pada tiap pribadi bangsa indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai saat ini, pancasila masih hanya sebagai sebuah ideologi tanpa arti (yang pada saat ORBA sempat menjadi alat penguasa dalam melanggengkan kekuasaannya) atau bahkan hanya menjadi wacana semata, padahal bila kita menilik kembali, bagaima pancasila disusun oleh &lt;i&gt;founding&lt;/i&gt; &lt;i&gt;father&lt;/i&gt; negeri ini 66 tahun silam, harusnya kita merasa prihatin. Pancasila merupakan hasil rumusan dan cerminan bangsa indonesia yang sangat berharga dan sudah semestinya kita junjung tinggi dan pengingkaran terhadapnya sama halnya dengan mengingkari karakterisitik serta dasar ideologi bangsa kita dan merupakan bentuk penghianatan yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mewakili seluruh umat beragama dalam menjalani keyakinannya. Sila pertama ini menunjukkan kepada kita semua bahwa bangsa indonesia merupakan bangsa yang bertuhan, beragama dan berkeyakinan kapada sang pencipta alam. Sila ini menjadi dasar bagi seluruh elmen bangsa Indonesia untuk mendapat kebebasan dalam &amp;nbsp;berkeyakinan dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan yang dipeluknya, tetapi akhir-akhir ini, kita melihat banyak pengingkaaran terhadap hal tersebut. &lt;/span&gt;Para penganut agama (minoritas) sepertinya kurang mendapat perhatian dari pemeritah, misalnya seperti kasus GKI Yasmin yang ditutup oleh Pemda setempat karena dianggap tidak memiliki surat izin. &lt;span lang="IN"&gt;Sila yang kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ini menjadi interpretasi fungsi sebuah negara. Negara haruslah memperlakukan rakyatnya dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Sebuah negara harus memberlakukan hukum &lt;/span&gt;serta kebijakan &lt;span lang="IN"&gt;dengan tanpa adanya unsur kecurangan didalamnya. Tapi jika kita menilik kembali kondisi bangsa ini, sepertinya manifestasi dari sila kedua ini masih saja jauh dari harapan. Nilai-nilai humanis dalam memperlakukan warganya dan hak-hak warga negara masih saja terkebiri oleh kepentingan penguasa. Sila yang ketiga, persatuan indonesia. Sila ini mencerminkan bahwa negara Indonesia merupakan sebuah negara yang terbentuk dari berbagai suku, ras, agama dan kebudayaan. Inilah salah satu keunikan Indonesia yang jarang ditemukan dilain negara. Tetapi akhir-akhir ini, kita banyak dikejutkan oleh berbagai macam aksi yang tidak sepatutnya dilakukan, aksi yang merongrong kesatuan Indonesia, seperti perpecahan akibat sedikit gesekan dalam berkeyakinan, fanatisme yang berujung pada aksi-aksi kekerasan, aksi-aksi yang menunjukkan intoleransi dalam keberagaman dan maraknya perekrutan NII oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang ingin mengganti idiologi pancasila dengan idiologi lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila ini seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi para wakil kita yang duduk diparlemen. Tetapi apa yang mereka lakukan?? Banyak dari mereka seakan hanya melakukan pemborosan anggaran demi keknyangan perut mereka sendiri, mereka sepertinya tidak begitu merasa penting dengan urusan rakyat jelata yang harusnya mereka wakili suaranya dan mereka perjuangkan. Sistem politik terutama dalam berdemokrasi seakan sudah bergeser kearah demokrasi &lt;/span&gt;langsung dan spirit persaingan &lt;span lang="IN"&gt;dan tidak lagi menggunakan sistem yang mencerminkan demokrasi pancasila yang didalamnya &lt;/span&gt;banyak &lt;span lang="IN"&gt;diwarnai dengan demokrasi perwakilan dan dilandasi sistem musyawarah. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indoneisa. Adil tidak harus sama, itu memang benar, tetapi keadilan dalam bidang hukum, tentu keadilan harus sama antara sikaya dan simiskin. Dinegara kita, keadilan yang demikian sepertinya masih mahal harganya. Keadilan masih diperjualbelikan oleh mereka kaum borjuis bangsa ini. Kita masih banyak menemui ketimpangan-ketimpangan dalam memberlakukan hukum dan kebijakan ekonomi, pendidikan dan sektor lainnya yang sifatnya adil dan tanpa pandang bulu dan tidak mencerminkan keberpihakan terhadap &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kelima sila yang seharusnya menjadi cerminan dari bangsa indonesia sudah seharusnya kita tegakkan kembali dan kita tanamkan dalam pribadi kita, dalam pribadi seluruh tumpah darah Indonesia, dalam sistem pemerintahan kita karena sudah seharusnya kesadaran berpancasila dalam menjalani kehidupan berbangsa dan beernegara harus dimulai dari detik dimana pertama kali kita menghirup segarnya udara Ibu Pertiwi. 66 tahun pancasila terbentuk, sudah seharusnya pancasila mendarah daging pada diri kita masing-masing. &lt;/span&gt;Pancasila bukan hanya nama dan lamb&lt;span lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;ng tetapi Pancasila merupakan sistem tata nilai yang berlaku bagi seluruh warga Indonesia. &lt;span lang="IN"&gt;Selamat hari Pancasila 1 Juni 2011.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-8564931852934898754?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/8564931852934898754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/06/me-pancasila-kan-kembali-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/8564931852934898754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/8564931852934898754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/06/me-pancasila-kan-kembali-indonesia.html' title='Me-Pancasila-kan kembali Indonesia'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Gf2966ESJF8/Te7x4YgFvpI/AAAAAAAAADo/40YLtqSyrBw/s72-c/images1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-1814858106553405148</id><published>2011-05-02T15:17:00.001+07:00</published><updated>2011-05-02T15:22:27.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>DERADIKALISASI MELALUI PENDIDIKAN AGAMA</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Dewasa ini kita telah menghadapi krisis multidimensi, terutama krisis kepercayaan. Banyak dari kita yang tidak lagi bisa mempercayai ucapan-ucapan para pemimpin kita karena kejujuran saat ini sangat mahal harganya dan telah disalah gunakan. Selain itu, menurut Toety Herati Noerhardi, manusia Indonesia saat ini mengalami keterputusan komunikasi antara berbagai pihak dalam masyarakat sehingga memaksa mereka untuk mengembangkan keputusan yang tidak didukung oleh pengertian yang sama diantara mereka yang kemudian menyebabkan bangsa ini mennjadi terpecah belah dalam bingkai-bingkai yang menyebabkan masyarakat semakin menjauh antara satu dengan yang lainya. Berbagai krisis ini pula yang akhir-akhir ini menyebabkan berkembang pesat gerakan radikal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Dalam setiap agama terdapat berbagai nilai-nilai kearifan yang mendorong para pemeluknya untuk dapat berperilaku sesuai dengan tuntunan atau substansi dari agama tanpa harus tercerabut dari akar budayanya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Salah satunya adalah nilai multicultural yang terkandung dalam agama. Nilai-nilai ini banyak ditemukan dalam rangkaian panjang kitab suci masing-masing agama. Agama Islam dengan slogan &lt;i&gt;rahmatan lil ‘alamin &lt;/i&gt;dan agama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Kristen&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; dengan penghayatan ‘Kasih’ terhadap setiap makhluk Tuhan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;agama Budha dan Hindu dengan konsep pengamalan dharma dan keselarasan hidup dengan semesta &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;semua&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;nya merupakan nilai-nilai yang sangat urgen sekali untuk dapat diterapkan dalam system pendidikan agama di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Nilai-nilai multicultural yang terkandung dalam berbagai agama tersebut, apabila dapat terpatri dalam dunia pendidikan kita, tentunya akan mendorong terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang bermoral tinggi dengan semangat ketaatan terhadap agama yang dipeluknya tanpa harus memusuhi atau memaksakan iman atau kepercayaan yang dipeluknya terhadap orang yang berbeda dengannya. Jadi, sebenarnya tidak ada halangan untuk melakukan kerjasama terhadap mereka yang berbeda kepercayaan dengan cara yang santun, arif dan bijaksana dalam konteks menegakan keadilan dan memanusiakan manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Dengan memasukkan nilai-nilai lihur yang terkandung dalam berbagai agama, tujuan pendidikan agama yang di rumuskan dalam PP tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan bab 2 pasal 2 bahwasannya pendidikan agama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;dimaksudkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia dapat terwujud. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti yang luhur, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="I" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.5pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;yang memiliki&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt; latar belakang masyarakat yang h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;etero&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;gen, tentunya tak pernah lepas dari sentimen-sentimen suku, ras agama yang sering berujung pada konflik yang memakan tidak hanya harta benda, tetapi juga nyawa manusia. Dengan merebaknya tindakan-tindakan kekerasan yang mengatas namakan agama dan pembelaan terhadap Tuhan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;serta gerakan-gerakan radikal lainnya &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;yang akhir-akhir ini muncul, tentunya penerapan nilai-nilai multicultural yang ada dalam tiap agama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;dapat menjadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;salah satu resolusi konflik dan upaya deradikalisasi melalui jalur pendidikan agama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;. Pendidikan agama yang sifatnya inklusif perlu menjadi kajian yang mendalam bagi para ahli dan praktisi pendidikaan agama di Indonesia. semoga ini dapat menjadi renungan kita bersama dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional. Selamat hari pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-1814858106553405148?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/1814858106553405148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/05/deradikalisasi-melalui-pendidikan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/1814858106553405148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/1814858106553405148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/05/deradikalisasi-melalui-pendidikan-agama.html' title='DERADIKALISASI MELALUI PENDIDIKAN AGAMA'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-6714973373437351927</id><published>2011-03-21T09:25:00.001+07:00</published><updated>2011-03-21T09:26:17.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>DINAMIKA PENDIDIKAN AGAMA</title><content type='html'>&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 10pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 49.6pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Dalam masyarakat Indonesia yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;heterogen&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;, diperlukan usaha yang sangat serius untuk membangun pemahaman agama masyarakat yang tidak mengedepankan dimensi perbedaan, tetapi yang terpenting adalah membangun pemahaman yang dapat memahami keragaman yang ada. Pemahaman agama dalam konteks semacam ini tidak hanya memahami ajaran agama sebagai ajaran yang sakral semata, tetapi penting juga mempelajari aspek profan dalam agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 10pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 49.6pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Pendidikan agama, secara paradigmatik bersifat konservatif atau kolot. Dalam segi pembelajarannya, pendidikan agama paling banyak menuai kritik disana-sini karena kebanyakan pembelajaran dalam pendidikan agama di Indonesia selama ini masih banyak mengedepankan materi-materi yang mengarah pada pemahaman sempit agama. Pembangunan pendidikan masa Orde Baru yang sampai saat ini masih banyak dipraktekkan yang cenderung menekankan aspek kognitif semata, dan mengabaikan dimensi-dimensi afektif dan psikomotoris menimbulkan dampak antara lain munculnya gejala kepribadian pecah pada diri individu maupun kelompok.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Selain itu, budaya dominan seringkali muncul sebagai aktor utama dalam sistem pendidikan dan dalam menentukan kebijakan. Kebanyakan pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah masih banyak yang bercorak eksklusif – mengajarkan agamanya sendiri sebagai jalan keseamatan dan cenderung merendahkan agama yang lain. Menurut Zakiyudin Baidhawi, pendidikan agama disekolah lebih banyak disajikan melalui pendekatan mengajarkan agama daripada mengajarkan tentang agama. Pendekatan yang pertama melibatkan pendekatan pendekatan historis dan komparatif, sementara pendekatan yang kedua melibatkan indoktrinasi dogmatik yang mampu menyediakan sarana yang memadai untuk menentukan materi pelajaran agama mana yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 10pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 49.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Pendidikan Agama&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt; yang diajarkan diberbgai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt; mungkin belum ada yang memasukan tentang agama-agama lain dalam kurikulum. Kalaupun ada lebih banyak membahas agama-agama lain yang pada akhirnya menjelaskan superioritas agama yang dianut. Pendidikan agama di Indonesia memang telah menjadi masalah yang telah lama diperbincangkan. Menurut Ki Hajar Dewantar, pendidikan agama menjadi sulit karena ada tuntutan supaya sifat keagamaan diberi bentuk yaitu ‘pengajaran Agama’ yang tidak lain adalah hakikat syariat yang diberi bentuk tertentu (formalisasi agama).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 10pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 49.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Selain dalam hal muatan yang dinilai kaku, keberhasilan pendidikan agama lebih sering dilihat dari seberapa banyak hafalan kitab suci dan pengetahuan tata cara ritual. Teks-teks agama yang diajarkan hanya yang memperkuat iman dan solidaritas seiman. Anak didik diajarkan bagaimana mencintai agamanya sendiri dan bersikap fanatik, seraya tidak menghargai agama-agama lain. Padahal, seperti kata teolog Muslim, Kautsar Azhari Noer, keberagamaan yang menyebabkan permusuhan justru menandakan keagamaan baru pada kulit, belum sampai pada rohnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 10pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 49.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Harun Nasuton mengatakan bahwa pendidikan agama saat ini banyak dipengaruhi oleh &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; barat yang lebih mengutamakan pengajaran daripada pendidikan moral, padahal pendidikan agama sebenarnya lebih menitik berakan pada pendidikan moral tersebut. Siti Malikhah Towaf, salah seorang pengamat pendidikan mengatakan ada berbagai kelemahan dalam pendidikan agama disekolah, antara lain 1) pendekatan dalam pendidikan agama masih cenderung normatif, dalam arti masih banyak menyajikan tema-tema yang merujuk pada aturan-aturan yang sifatnya hitam-putih yang seringkali tanpa kontekstualisasi; 2) kurikulum pendidikan agama yang dirancang disekolah lebih banyak menawarkan minimum informasi dan guru agama masih banyak terpaku padanya, sehingga semangat untuk mengembangkan kurikulum tersebut kurang tumbuh dan bersifat monoton; 3) pendidikan agama yang diakui sebagai salah satu aspek dalam membentuk pribadi siswa kurang diberi prioritas dalam dunia pendidikan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr size="1" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Abdullah Idi dan Toto Suharto, &lt;i&gt;Revitalisasi Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 125&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Zakiyudin&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Baihawi, &lt;i&gt;Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural&lt;/i&gt; (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hlm. 31&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Listia, dkk, &lt;i&gt;Pendidikan Agama di SekolahUmum; Penelitian tetang Pendidikan Agama SD, SMP dan SMA di Kota Jogjakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;tahun 2004-2006,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; (Yogyakarta: DIAN/Interfidei, 2005) hlm. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mohammad Ali, &lt;i&gt;Pendidikan Pluralis-Multikultural, &lt;/i&gt;dalam Harian Kompas edisi Jum’at, 26 April 2002 atau dalam &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2002/26/04"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2002/26/04&lt;/a&gt; &lt;span style="display: none;"&gt;endidikan Pluralis -kanfidei ()________________________________________________________________________________________________&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1527057721315113858#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ngainun Nim dan Ahmad Sauqi, &lt;i&gt;Pendidikan Multikultural; Konsep dan Aplikasi, &lt;/i&gt;(Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2008) hlm. 185&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-6714973373437351927?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/6714973373437351927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/03/dinamika-pendidikan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/6714973373437351927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/6714973373437351927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/03/dinamika-pendidikan-agama.html' title='DINAMIKA PENDIDIKAN AGAMA'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-4606108842760031806</id><published>2011-03-21T09:19:00.000+07:00</published><updated>2011-03-21T09:19:33.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>KRITIK WACANA AGAMA</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadirnya Islam dalam ruang sosial masyarakat Arab yang mempumyai karakteristik sosial, ekonomi, politik dan budaya tersendiri. Hal ini memberikan warna tersendiri dalam proses menjadinya Islam sebagai agama manusia. Sejarah Islam yang selama ini kita pahami, banyak memendam realitas dan menyimpan data-data sejarah yang harusnya diungkap secara jelas dan transparan agar tercipta pemahaman yang utuh. Misalnya, konflik politik, perbedaan kepentingan ekonomi dan budaya pariarkhal dan lainnya tidak pernah diungkap dalam eksplorasi sejarah Islam. Sebenarnya kalau kita mau jujur kondisi tersebut yang seringkali melatarbelakangi lahirnya ajaran agama yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Referensi-referensi ke-Islaman yang menjadi rujukan umat Islam seolah-olah telah menghadirkan semua pesan keagamaan yang hendak disampaikan oleh Tuhan melalui Rasulnya. Ssehingga mayoritas umat Islam menganggap bahwa ajaran &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Islam yang bersumber dari warisan intelektual klasik adalah ajaran Islam yang final dan tanpa cacat. Persepsi inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya kejumudan dan kemandekan dalam pemikiran ke-Islaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Oleh karena itu kajian-kajian ke-Islaman dengan teori dan pendekatan kritis menjadi keniscayaan untuk mengungkap fakta-fakta sejarah selama ini tidak pernah diungkap dalam teks-teks klasik. Fakta-fakta sejarah pra-Islam, sejarah Islam pada periode keNabian, Khulafaur Rasyidin, sampai pada periode kodifikasi merupakan objek kajian historis yang harus kita dekati secara konfrehensif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Islam dalam Lintasan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Secara sosiologis, karakter dan lingkingan Arab yang dikelilingi padang pasir mempengaruhi watak bangsa Arab. Watak alami pasir, selain susah disatukan juga bersifat tidak stabil sehingga mereka sulit untuk disatukan. Watak tersebut juga yang membuat mereka menjadi bangsa yang memiliki fanatisme sekaligus fatalisme yang tinggi. Sehingga antara kafilah yang satu dengan yang lain seringkali terjadi konflik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Di tengah-tengah bangsa seperti itulah Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk membawa misi Islam. Misi profetik Muhammad secara geografis terbagi menjadi 2 yaitu di Mekah dan di Madinah. Perbedaan geografis ini juga membawa pada perbedaan nuansa pesan yang ia sampaikan pada masyarakatnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pada periode awal keNabian, Mekah menjadi pusat perdagangan Arab dan beberapa daerah sekitarnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gibb; “Mekah adalah kota dagang yang ramai dan sibuk, yang hampir memonopoli perdagangan antara lautan India dan Mediteranian, mengingatkan kita pada palmyra Yunani”. Kondisi sosial ekonomi masyarakat waktu itu sudah mengalami pergeseran dari nomad ke maden dari kepemilikan kolektif ke kepemilikan individu. Tetapi ditengah keramaian Mekah dan keberadaannya sebagai salah satu sentral perdagangan dunia, di Mekah belum terdapat pemerintahan atau kerajaan yang memiliki otoritas tertinggi untuk mengambil kebijakan-kebijakan strategis dan melaksanakannya. Satu-satunya lembaga pemerintahan di Mekah adalah senat yang disebut &lt;i&gt;mala’a&lt;/i&gt;. senat ini terdiri dari wakil-wakil suku. Disamping itu keputusan-keputusan yang diambil tidak mengikat untuk dilaksanakan secara penuh oleh suku-suku, kecuali keputusan yang dihasilkan oleh semua suku. Salah satu kontribusi penting Muhammad adalah menyempurnakan alat-alat negara yang tentu saja pada masanya masih mempunyai bentuk yang sangat sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Bagaimana kondisi keberagamaan masyarakat Arab waktu itu?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Penyembahan mereka terhadap berhala sebenarnya tidak begitu terkait dengan keyakinan yang mereka peluk dan tidak menjadikannya sebagai pengalaman spiritualitas yang mendalam, lebih-lebih kaum badui yang lebih menjunjung tinggi humanisme kesukuannya. Ditentangnya kehadiran Muhammad sebagai Rasul tidak lebih karena beliau telah menyerang sistem sosial dan ekonomi, mengajarkan kesetaraan sosial, menganjurkan distribusi ekonomi dari yang kaya pada yang miskin. Mereka tidak bersungguh dalam menyembah berhala dan tidak memiliki ikatan emosional dengan sesembahannya. Yang mereka khawatirkan adalah ajaran monoteisme murninya yang bisa menghancurkan aset sosial ekonomi yang mereka kuasai. Disamping itu mereka takut pengakuan mereka terhadap Muhammad akan memunculkan suatu bentuk kekuasaan ekonomi politik baru dalam masyarakat oligarki yang mereka bentuk selama ini, yang mana nantinya akan membatasi aktivitas sosial ekonomi yang mereka lakukan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Persoalan-persoalan tersebut yang kemudian meninbulkan tarik menarik kepentingan antara Muhammad dan elit masyarakat Mekah. Yang berujung pada pengusiran terhadap Muhammad dan umatnya setelah langkah-langkah kompromis yang mereka lakukan tidak mampu menggoyahkan Muhammad untuk melakukan transformasi sosial di Mekah Muhammad kemudian berinisiatif untuk pindah ke Madinah (sebelumnya telah mengirim beberapa orang ke Absyania). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Keadaan Madinah sebelum kedatangan Muhammad mempunyai kultur yang tidak jauh berbeda dengan Makkah. Fanatisme kesukuan, konflik antar-suku yang disbabkan perebutan lahan ekonomi seringkali mewarnai kehidupan mereka. Berbeda dengan di Makkah, di Madinah waktu itu belum ada pemerintahan sebagaimana senat yang ada di Makkah. Sehingga berbagai konflik yang terjadi sulit untuk dipertemukan jalan tengahnya untuk mewujudkan perdamaian antar-suku. Di sinilah peran strategis kehafiran Muhammad sebagai Nabi yang dapat mengkompromikan berbagai perdedaan yang menyebabkan konflik sosial di Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pada awal kehadirannya bersama kaum Muhajirin, Muhammad membuat kontrak sosial dengan suku-suku yang ada di Madinah yang mengatur berbagai kebutuhan interaksi sosial di antara mereka. Kontrak sosial ini yang kemudian titik awal pendirian negara di Madinah. Kepemimpinan Nabi waktu itu lebih pada wilayah keagamaan, sedangkan pada sektor ekonomi, politik masyarakat Madinah masih lebih memilih para kepala suku sebagai patron mereka. Persoalan pertama yang dihadapi sebagai pemimpin waktu itu adalah inkonsistensi kaum Yahudi terhadap kontrak sosial yang telah dibuat dan resistensi mereka terhadap ajaran-ajaran Nabi. Bahkan mereka seringkali meneror Nabi dan pengikutnya, baik secara fisik ataupun psikologis. Hal inilah yang kemudian menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an yang mencerca kaum Yahudi dan perintah untuk berpindah kiblat dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Ka’bah di Makkah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Selanjutnya, Nabi terus membagun kekuatan sosial-politik dengan terus menyebarkan misi profetiknya ke berbagai daerah di Madinah dan sekitarnya. Beliau juga membangun kekuatan militernya dengan membentuk tentara muslim, membangun kekuatan ekonomi dengan melakukan penghadangan terhadap kafilah dagang kaum kafir quraisy sehingga terjadi perang kecil-kecilan di antara yang memicu perang besar antara kaum kafir quraisy dan pengikut Muhammad atau yang biasa kita kenal dengan perang Badar dan selanjutnya disusul dengan perang-perang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berbeda dengan di Makkah yang lebih menekankan pada aspek teologinya. Di Madinah ajaran-ajaran Islam yang disampaikan lebih bersifat keduniawian. Demikianlah Nabi terus melakukan ekspansi politik, agama dan ekonominya ke berbagai daerah hingga akhir hayatnya. Dan selama kurang lebih 23 tahun beliau mampu meredam fanatisme kesukuan yang tertanam dalam kehidupan bangsa Arab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Periode Khulafaurrasyidin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sepeninggalan Nabi Muhammad SAW para sahabat terlibat perdebatan sengit antara kaum Muhajirin dan Anshor tentang siapakah yang berhak dan pantas mengggantikan Nabi. Perdebatan yang terjadi di Saqifah Bani Sa’adah tersebut berakhir pada terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Reaksi terhadap terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah datang dari berbagai kalangan. Misalnya dari Siti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang tidak mau membaiat Abu Bakar bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menyatakan keluar dari Islam. Konflik tersebut berujung pada peperangan yang biasa kita kenal perang Yamamah, yaitu perang antara Abu Bakar dengan segenap penentangnya seperti Musailamah al-Kadzab dan kawan-kawan. Beruntunglah konflik tersebut dapat segera diredam dan Abu Bakar mulai melakukan ekspansi ke beberapa daerah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Setelah Abu Bakar meninggal pada 22 Agustus 63 M, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Umar bin Khattab. Pada masa Umar bin Khattab, konflik internal umat Islam kadangkala masih mewarnai pemerintahannya. Salah satunya di picu oleh ketidaksenangan Bani Umayah terhadap Umar bin Khattab yang kemudian menghasut seorang ahli pedang Majusi yang sedang mengabdi pada Umar bin Khattab, bernama Lu’luah. Dialah orang yang kemudian hari membunuh Umar bin Khattab. Sebelum Umar bin Khattab meninggal, dia menunjuk enam orang sahabat yang berhak dan pantas menggantikannya. Mereka adalah Usman, Ali, Thalhah bin Zubair, ZUbair Awwam, Abdullah bin Umar, dan Abdurrahman bin Auf. Unsur fanatisme kabilah-lah yang telah mengantarkan Usman bin Affan sebagai khalifah, setelah melalui proses negosiasi di antara mereka berenam yang dimediasi oleh Abdurrahman bin Auf yang juga berasal dari Bani Umayyah sebagaimana Usman bin Affan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pada enam tahun pertama pemerintah Usman semua aktivitas dapat berjalan dengan normal, kemajuan dan kemenangan diraih dimana-mana. Dan pada enam tahun kedua Usman telah memasuki usia senja sehingga hampir semua urusan pemerintahan dijalankan oleh sekretarisnya yaitu Marwan bin Hakam. Kesempatan ini digunakan olehnya untuk mengganti beberapa gubernur dan petugas zakat. Mereka digantikan oleh orang-orang yang berasal dari Bani Umayyah. Situasi ini kemudian diperburuk oleh gaya hidup pejabat pemerintahan saat itu yang hedonis. Hal inilah yang menyebabkan ketidakpuasan beberapa kelompok masyarakat yang tinggal di Mesir, Kufah dan Basrah. Di Mesir misalnya banyak rakyat Mesir yang tidak puas dngan kepemimpinan Abdullah bin Abi Sarah bahkan mereka juga menuntut mundurnya Usman sebagai khalifah. Tarik menarik kepentingan inilah yang kemudian berujung pada demontrasi besar-besaran dari Mesir, Kufah dan Basrah yang berujung pada pembunuhan Usman Bin Affan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Setelah Usman wafat para sahabat mengadakan rapat mengenai pergantian khalifah. Hadir waktu itu Thalhah, Sa’ad bin Abi WaqashAbu Hurairah, Abdullah bin Umar dan lainnya. Rapat ini kemudian menobatkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Usman Bin Affan. Pada awal pemerintahannya banyak tuntutan dari berbagai kelompok masyarakat terutama dari Bani Umayyah yang menuntut pengusutan pembunuihan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;terhadap Usman. Di tengah mengalirnya berbagai tuntutan tersebut, Ali membuat kebijakan kontroversia dengan memecat semua pejabat pemerintahan yang berasal dari Bani Umayyah kecuali Muawiyah bin Abi Sufyan yang waktu itu menjabat sebagai gubernur Syam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Konflik internal umat Islam pada masa Ali makin merebak ke mana-mana bahkan di kalangan para sahabat sendiri sendiri sehingga timbul peperangan antara kubu Ali dengan kubu Aisyah, Thallhah bin Zubair dan Zubair bin Awwam. Perang antar sahabat tersebut biasa kita kenal dengan perang Jamal yang berakhir pada kemenangan Ali dan terbuhnya Zubair dan Thallhah. Perang kedua terjadi antara kubu Ali dan kubu Muawiyah dalam perang Shiffin. Dalam perang tersebut dicapai sebuah kesepakatan untuk mengakhiri pertikaian di antara mereka dengan jalan tahkim yang masing-masing kubu menunjuk satu orang sebagai perwakilan mereka. Terlepas dari kesepakatan yang telah dibuat antara Ali dan Muawiyah. Di kubu ada terdapat perbedaan antara mereka yang setuju tahkim dan mereka yang menolaknya. Dalam momentum tahkim itulah diputuskan pemecatan Ali sebagai khalifah dan digantikan Muawiyah. Hasil tersebut merupakan bagian dari telikungan Amr bin Ash sebagai wakil dari Muawiyah terhadap kesepakatan yang dibuat dengan Abu Musa al-Asy’ari untuk memecat keduanya dari jabatan mereka masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Mulai saat itulah terjadi tragedi besar &lt;i&gt;(al-fitnah al-kubra)&lt;/i&gt;. Umat Islam yang baru 30 tahun ditinggal Nabi sudah tercabik-cabik dalam kelompok-kelompok. Namun perpecahan tersebut masih terbatas pada perpecahan politik tetapi dalam perjalanan sejarahnya kemudian menimbulkan perbedaan pendapat dalam persoalan teologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Periode Tadwin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tradisi kritik dalam Islam sebenarnya bukanlah hal baru karena kelahirannya telah mengandung unsur kritik terhadap kondisi masyarakat Arab jahiliah yang sangat membelenggu keyakinan, ekonomi maupun budaya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dalam tradisi keilmuan Islam sebenarnya sudah cukup lama mengenal tradisi kritik yaitu sejak abad 3 H. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap warisan intelektual abad sebelumnya. Tradisi keilmuan Islam, secara dokumentatif dimulai sejak abad k-2 H, ditandai dengan dibukukannya hadist Nabi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (101 H). Kemudian disusul karya lainnya seperti kitab Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas (179 H). Sejak itulah geliat keilmuan umat Islam terus berkembang dan menemukan momentum keemasannya pada abad ke-7 H pada masa khalifah al-Makmun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Banyaknya karya keislaman yang cukup lengkap untuk zamannya ternyata membuat generasi selanjutnya terbuai dan terlena dengan apa yang telah dihasilkan dan dimilikinya. Bahkan di kalangan mereka menyikapi karya-karya tersebut sebagai hal yang sudah selesai dan final. Asumsi inilah kemudian yang menyebabkan hilangnya produktivitas kaum muslim untuk melahirkan karya-karya baru dalam studi keislaman. Karya-karya yang dihasilkan hanya sebatas reproduksi terhadap apa yang telah ada sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tradisi inilah yang kemudian terus dilestarikan sampai sekarang ini. Bahkan penyikapan mereka mengarah kepada pembakuan dan pensucian terhadap karya-karya yang dihasilkan pada abad ke-2 sampai ke-7 H tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dalam situasi seperti inilah tradisi kritik dalam Islam perlu dihidupkan kembalia untuk memberikan penyegaran tyerhadap pemahaman keislaman yang selama ini telah mengalami pembekuan dan pembakuan bahkan pensucian terhadap warisan intelektual klasik. Kehadiran Muhammad Arkoun, Hasan Hanafi, Abed al-Jabiri dan tokoh Islam kritis lainnya telah memberikan perspektif baru dalam melihat tradisi keislaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kritik Nalar untuk Penyegaran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kritik nalar dalam istilah filsafat adalah &lt;i&gt;kritik epistimologi, &lt;/i&gt;yaitu terhadap metodologi yang melahirkan dan menyusun struktur ilmu. Munculnya kritik nalar merupakan respon terhadap kebekuan study Islam dan ketidakpuasan terhadap metodologi kajian Islam yang berkembang selama ini. Kritik nalar dalam konteks ini ditujukan pada seluruh bangunan keilmuan Islam yang dilihat sebagai produk sejarah pemikiran keagamaan biasa yang memiliki dimensi relativisme. Analisis epistimologis dengan mengedepankan kritik harus diterapkan pada teks suci maupun profan, historis ataupun filosofis, teologis maupun yuridis, terlepas dari status kognitifnya dalam sebuah tradisi keyakinan, pemikiran dan pemahaman. Muara dari proyek kritik nalar adalah memecahkan postulat keagamaan yang selama ini berada dalam wilayah “tak terpikirkan” yang kemudian menjadi “tidak dapat dipikirkan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dalam konteks kritik nalar, Islam dan sekian tradisi keilmuan yang dmilikinya diposisikan sebagai obyek studi yang mengedepankan rasionalitas dan obyektivitas dalam mengkaji Islam. Untuk memperoleh pandangan yang obyektif mengenai sebuah kajian ilmiah, sikap menjaga jarak antara subyek dan obyek yang diteliti menjadi keniscayaan. Hal ini diperlukan untuk menjaga kejernihan atas materi kajian sebagaimana adanya, tanpa ada pengaruh dari emosi maupun kepentingan dari pihak luar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dari sinilah al-Jabiri hadir menawarkan 3 jenis pendekatan yang memungkinkan tumbuhnya tingkat obyetivisme dalam kajian tradisi. Pertama, metode strukturalis yang mengkaji tradisi melalui metode yang berangkat dari teks-teks yang dilihat sebagaimana adanya dan meletakknnya sebagai sebuah korpus terbuka, satu kesatuan sistem. Hal penting yang harus dilakukan adalah melokalisir pemikiran produsen teks (penulis, sekte dan lain-lain) pada satu fokus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua, analisis sejarah. Pendekatan ini berupaya untuk menghubungkan pemikiran pemilik teks dengan lingkup sejarahnya, ruang lingkup budaya politik dan lain sebagainya. Hal ini penting dilakukan karena 2 hal, yaitu keharusan memahami historisitas dan genealogi pemikiran sekaligus untuk mengetahui apa yang terungkap dalam teks (&lt;i&gt;said&lt;/i&gt;), apa saja yang tidak terkatakan (&lt;i&gt;non said&lt;/i&gt;), apa saja yang dikatakan namun tidak pernah terungkap (&lt;i&gt;never said&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ketiga, ktitik ideologi. Pendekatan ini dimaksud untuk mengungkap misi ideologis, termasuk fungsi sosial-politik yang dikandung dalam sebuah teks. Tiga pendekatan tersebut saling terkait satu sama lainnya dan berguna untuk merekonstruksi tradisi dalam bentuk baru dan pola hubungan yang baru serta menjadikannya lebih kontekstual dalam pemahaman yang rasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-4606108842760031806?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/4606108842760031806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/03/kritik-wacana-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/4606108842760031806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/4606108842760031806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/03/kritik-wacana-agama.html' title='KRITIK WACANA AGAMA'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-2466902865310054684</id><published>2011-02-08T00:26:00.000+07:00</published><updated>2011-02-08T00:26:34.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>Menuju Agama Madani</title><content type='html'>Hingga kini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama. Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bagaimana jalan keluarnya? Ilham Khoiri dan Myrna Ratna&lt;br /&gt;Kita perlu mengembangkan pemahaman agama madani. Ini bukan agama baru, melainkan pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama dan berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban,” kata Jalaluddin Rakhmat (62), cendekiawan Muslim asal Bandung.&lt;br /&gt;Kang Jalal—demikian sapaan akrabnya—fasih mengulas hal ini. Maklum saja, dia punya pengalaman bergumul dengan persoalan hubungan antaragama, mengkaji berbagai pemikiran keagamaan, berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis sejumlah buku. Dia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan pluralisme lewat sejumlah lembaga keagamaan.&lt;br /&gt;”Pemahaman agama madani paling cocok untuk dikembangkan dalam kehidupan modern dan demokratis, seperti di Indonesia sekarang ini,” katanya ketika ditemui setelah memberikan ceramah keagamaan di Paramadina, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu.&lt;br /&gt;Bagaimana persisnya pemahaman agama madani itu? Kang Jalal mengutip filsuf kelahiran Swiss, Jean Jacques Rousseau, yang hidup pada zaman Revolusi Perancis (abad ke-18 Masehi). Ketika menceritakan gagasan kontrak sosial, Rousseau menyebut la religion civile (agama civil), sebagai pemahaman yang paling cocok bagi kehidupan modern. Ini pengembangan dari dua tipe sebelumnya, yaitu agama yang menyatukan kebangsaan serta agama institusional—sebagaimana dianut banyak orang sekarang.&lt;br /&gt;Berangkat dari tafsir atas pemikiran itu, Kang Jalal mengusung wacana agama madani dan memetakan fenomena pemahaman keislaman di Indonesia. Bagi dia, ada tiga jenis pemahaman Islam: Islam fiqhiy, Islam siyasiy, dan Islam madani. Islam madani merupakan pencapaian akhir dari dua tahapan pemikiran sebelumnya.&lt;br /&gt;Islam fiqhiy memusatkan perhatian pada ajaran fikh yang dipraktikkan sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari ritual. Pemahaman ini umumnya hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain salah. ”Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya saja,” katanya.&lt;br /&gt;Setelah itu berkembang Islam siyasiy atau Islam politik. Menjadikan Islam sebagai kegiatan politik, pemahaman ini memusat pada perjuangan untuk merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau mendirikan khilafah. Keselamatan bukan untuk sekelompok Islam, tetapi untuk seluruh umat Islam, rahmatan lilmuslimin.&lt;br /&gt;Bagi Islam fikhiy, kaum Muslimin mundur karena dianggap meninggalkan Al Quran dan Sunah. Untuk maju, kita mesti kembali berpedoman kepada dua sumber itu. Mereka meyakini bahwa zaman para Nabi dan sahabatnya adalah zaman paling ideal.&lt;br /&gt;Islam politik melihat kemunduran umat Islam akibat dominasi dan konspirasi Barat yang menghancurkan Islam. Mereka mengajak kita kembali merujuk zaman Islam menguasai seluruh dunia, yaitu masa khilafah Ustmaniyah. Itu dianggap zaman ideal yang harus diperjuangkan lagi.&lt;br /&gt;Kedua pemikiran itu mengantarkan kita pada Islam madani. Semua agama bisa bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama.&lt;br /&gt;Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan.&lt;br /&gt;Jika Islam fiqhiy itu berkutat pada urusan fikh dan Islam siyasiy pada politik, Islam madani berpusat pada karakter, akhlak. Tujuannya untuk membangun akhlak yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pemahaman itu dialami Kang Jalal dalam perjalanan hidupnya. Dia besar dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU) di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat kecil dia ditinggalkan ayahnya pergi ke Sumatera untuk perjuangan Islam. Ayahnya aktif dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang bercorak Islam politik.&lt;br /&gt;Jalal melanjutkan sekolah di Kota Bandung. Dia berkenalan dengan paham PERSIS (Persatuan Islam) yang menurutnya sangat fikhiyah, dan kemudian menjadi kader Muhammadiyah. ”Saya pernah berusaha mengubah masjid NU di kampung menjadi masjid Muhammadiyah. Caranya, dengan menyingkirkan beduk. Ketika mau shalat Jumat, jemaah masjid itu kehilangan beduknya,” katanya mengenang.&lt;br /&gt;Jalal muda lantas bersentuhan dengan kelompok-kelompok yang dulu bergabung dengan Masyumi yang kental warna politiknya. Dari berbagai pelatihan, tumbuh keinginan untuk melanjutkan perjuangan ayah mendirikan sistem politik Islam. Ketika melanjutkan studi S-2 ke Iowa State University, Amerika Serikat, tahun 1980, dia juga terpengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;Pulang ke Tanah Air, Jalal menerbitkan buku-buku dari Ikhwanul Muslimin, seperti karya Hasan Al-Banna, tokoh garis keras dari Mesir. Hingga tahun 1990-an dia aktif memperjuangkan syariat Islam, terutama lewat pelatihan di kampus-kampus. ”Saya termasuk penentang asas tunggal Pancasila karena merupakan produk sekuler,” katanya.&lt;br /&gt;Dia pernah berdebat dengan Nurcholish Madjid (almarhum) di ITB. Cak Nur mewakili cendekiawan sekuler propemerintah, sementara Jalal dikelompokkan sebagai fundamentalis antipemerintah. ”Saya sempat dipanggil Bakorstanasda, bagian dari Pangkopkamtib, dan diberhentikan sebagai dosen oleh Dekan Universitas Padjadjaran,” katanya.&lt;br /&gt;Pemahaman keagamaan Kang Jalal bergeser secara perlahan, terutama setelah diundang Cak Nur untuk ikut mengisi acara-acara kajian di Paramadina tahun 1990-an. Dia juga banyak berdiskusi dengan kelompok Islam modernis, seperti Alwi Shihab, Gus Dur, dan Dawam Rahardjo.&lt;br /&gt;Di luar itu, saat mengikuti konferensi internasional di Kolombo, dia bertemu dengan sejumlah ulama Syiah yang membawa perspektif Islam lain yang masuk akal dan sangat pluralistik. Pulang ke Indonesia, dia bawa buku-buku Syiah dan menerbitkannya lewat Mizan.&lt;br /&gt;Salah satunya, buku-buku Ali Syariati yang menempatkan ideologi Islam bukan untuk menegakkan syariat, melainkan untuk menentang kezaliman, penindasan. Pemikir Syiah lain, Murtadha Muthtahhari, punya pandangan pluralis. Bagi dia, Tuhan adil sehingga pasti memberi pahala bagi siapa pun yang berbuat baik, apa pun agamanya. Hukuman diberikan kepada yang berbuat jahat, apa pun agamanya.&lt;br /&gt;”Apakah menolong orang menjadi amal saleh karena pelakunya Muslim, dan menjadi amal salah karena pelakunya orang bukan Islam? Amal itu baik pada dirinya. Semua itu menggugah saya,” katanya.&lt;br /&gt;Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.&lt;br /&gt;Belakangan, dia juga suntuk menekuni tasawuf, jenis keislaman yang dasarnya cinta. Dengan cinta, setiap agama bisa bertemu dan berbicara pada bahasa yang sama, memasuki kebun yang sama, baik itu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Hindu.&lt;br /&gt;Indonesia&lt;br /&gt;Ketiga pemahaman Islam tadi tumbuh di Indonesia. Islam siyasiy tampak bangkit lagi lewat partai-partai politik Islam serta dalam kelompok keagamaan di kampus-kampus umum. Islam fiqhiy juga masih ada meski mulai berkurang. Beberapa organisasi masih bertahan dengan Islam fikh.&lt;br /&gt;Namun, Islam madani juga berkembang. Secara umum masyarakat sudah bertambah pluralis. Keterbukaan lewat internet membuat orang mudah memahami kelompok lain. Itu pengantar efektif untuk mendorong orang menjadi pluralis dalam kehidupan global.&lt;br /&gt;”Ketiga jenis Islam itu bertarung dalam wacana, tapi kadang memercik dalam tindakan kerusuhan. Itu terjadi jika dibakar oleh kelompok kepentingan tertentu,” katanya.&lt;br /&gt;Kang Jalal menilai agama madani sangat pas dikembangkan di Indonesia. Pemahaman ini bisa menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh paham keagamaan. ”Kita bisa tingkatkan toleransi itu dari saling menghakimi, menjadi memahami, dan kemudian saling mengalami. Pada tingkat paling tinggi, kita menikmati kehadiran orang lain dalam kehidupan,” katanya.&lt;br /&gt;Bagaimana pemerintah berperan mengembangkan pluralisme? ”Buat kita, itu anjuran. Buat pemerintah, itu keharusan,” katanya.&lt;br /&gt;Secara moral, pemerintah wajib melindungi kelompok minoritas dengan memberi hak dan peluang yang sama. Pemerintah mestinya bersikap tegas dalam melindungi kelompok-kelompok minoritas.&lt;br /&gt;Pluralisme juga bisa dikembangkan lewat sistem pendidikan. Akhlak atau karakter yang baik, seperti penghargaan kepada orang lain atau sikap empati terhadap sesama, bisa ditanamkan lewat program-program pelatihan di sekolah. Pendidikan paling layak disebut pendidikan karena mengajarkan karakter.&lt;br /&gt;Menurut Jalal, secara keseluruhan negara memang masih lemah. ”State sudah menetapkan sesuatu, katakanlah undang-undang yang melindungi kebebasan beragama, tapi tak jalan di lapangan. Menurut UUD 1945, tak boleh ada satu kelompok agama diserang hanya karena beda mazhab. Tapi, penyerangan itu terjadi,” ujarnya.&lt;br /&gt;Negara lemah karena hukum kita lemah. Hukum lemah karena politik Indonesia itu ditentukan hubungan dan kepentingan kelompok. Pemerintah, kata Kang Jalal, lebih mempertimbangkan kepentingan politik, bukan lagi undang-undang yang membela hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh : Komarudin Hidayat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-2466902865310054684?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/2466902865310054684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/02/menuju-agama-madani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/2466902865310054684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/2466902865310054684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/02/menuju-agama-madani.html' title='Menuju Agama Madani'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-7111101256933502193</id><published>2011-01-03T13:37:00.002+07:00</published><updated>2011-01-03T13:44:31.087+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>Revitalisasi Islam "Rahmatan lil 'Alamin"</title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmus%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" UnhideWhenUsed="false"    Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-alt:"Century Gothic"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di Alexandria, Mesir, malam tahun baru menjadi malam kelabu. Bom mobil meledak di depan Gereja Qadisiyin (Kristen Koptik), menewaskan 21 warga dan 20-an lainnya terluka parah. Kegembiraan bermetamorfosis menjadi nestapa dan kesedihan. Sementara ini, jaringan Al Qaeda diduga aktor di balik aksi barbar tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tidak hanya itu, selepas aksi teroristik terjadi bentrok fisik antara kalangan Muslim dan Kristen. Bagi warga Mesir, tahun 2011 telah menjadi mimpi buruk dalam konteks hubungan Islam dan Kristen, yang sebenarnya dalam sejarah dikenal harmonis dan toleran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Fakta tersebut merupakan pelajaran terbaik, bahwa perlu perhatian semua pihak agar kerukunan antaragama, khususnya Islam-Kristen, di republik ini senantiasa ditumbuhkembangkan. Survei Moderate Muslim Society mencatat, kelompok Kristen merupakan korban intoleransi terbesar sepanjang tahun 2010, yaitu 34 kasus dari 81 aksi intoleransi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh sebab itu, kalangan Muslim sebagai kelompok terbesar mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan paham Islam rahmatan lil ’alamin, yaitu keberislaman moderat yang membangun toleransi dan harmoni dengan semua kelompok agama, keyakinan, dan aliran kepercayaan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hal ini, kita perlu mengangkat kembali pemaknaan agama sebagai elan persaudaraan. KH Ahmad Shiddiq telah merumuskan sebuah pandangan menarik soal perlunya meneguhkan tiga model persaudaraan, yaitu persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyyah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pribumisasi Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di pengujung tahun 1980-an, Gus Dur juga merumuskan Islam rahmatan lil ’alamin melalui ”Pribumisasi Islam”. Menurut Gus Dur, Islam mesti diletakkan dalam konteks kebudayaan masyarakat setempat. Islam dan kebudayaan hendaknya melakukan adaptasi dan akulturasi tanpa kehilangan identitas masing-masing. Islam harus melindungi, bahkan merayakan, kebhinekaan agama dan kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Diskursus tersebut merupakan sebuah episode baru dalam rangka memecahkan ketegangan yang muncul di antara berbagai kelompok dan aliran keagamaan, di antaranya sejak proyek dikotomi santri-abangan-priayi Clifford Geertz dalam Religion of Java pada tahun 1960-an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jauh sebelum mencuatnya formalisasi agama pascareformasi yang mengedepankan wajah Islam yang cenderung Arabistik, kecenderungan untuk mengaitkan Islam dengan Arab merupakan sebuah fenomena yang mencuat ke permukaan dalam pergulatan keislaman di Tanah Air. Menjadi seorang Muslim rasanya tidak nyaman jika tidak menggunakan istilah-istilah Arab dan mengadopsi kebiasaan Arab. Identitas keislaman selalu diidentikkan dengan Arab, sedangkan yang bertentangan dengan identitas tersebut disebut abangan, atau bukan santri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Secara sosiologis, Gus Dur memandang fenomena tersebut sebagai gejala ketidakpercayaan diri kalangan Muslim dalam menghadapi penetrasi budaya Barat akibat proyek besar globalisasi. Hegemoni kebudayaan yang dilakukan oleh Barat melalui proyek pendaratan dan pendataran ideologinya, khususnya kapitalisme dan neoliberalisme, telah menyebabkan umat Islam berada di persimpangan ketertindasan dan keterpurukan, terutama dalam sektor ekonomi, politik dan budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Posisi umat Islam sebagai konsumen globalisasi pada umumnya berada di pinggiran. Meskipun ada beberapa negara Muslim yang belakangan menjadi pemain inti dalam globalisasi, seperti negara-negara Teluk, hal tersebut tidak merepresentasikan keseluruhan umat Islam yang umumnya hidup dalam bayang-bayang kemiskinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Menurut Gus Dur, sikap sebagian umat Islam dalam merespons globalisasi dengan arabisasi bukanlah solusi yang tepat. Alih-alih ingin memberikan alternatif bagi keterpurukan posisi umat Islam dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi, justru langkah tersebut semakin memperkeruh suasana karena justru menambah persoalan baru: benturan kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Arabisasi tidak hanya bertentangan dengan spirit globalisasi yang menekankan demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan kebudayaan Nusantara yang sudah berlangsung beberapa abad yang lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh sebab itu, Pribumisasi Islam menjadi salah satu alternatif untuk mempertahankan khazanah Islam Nusantara dari gempuran globalisasi di satu sisi dan arabisasi di sisi lain. Islam mesti diletakkan dalam konteks kebudayaan masyarakat setempat. Islam dan kebudayaan hendaknya melakukan adaptasi dan akulturasi tanpa kehilangan identitas masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hal ini, Pribumisasi Islam tidak memahami kebudayan-kebudayaan lokal sebagai musuh dan hambatan dalam beragama, tetapi sebagai kearifan lokal (local wisdom) yang justru dapat memperkukuh eksistensi dan akselerasi misi Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Salah satu misi utama Islam dalam konteks kebudayaan adalah menebarkan harmoni dan akulturasi dengan berbagai macam kebudayaan yang tumbuh dalam masyarakat setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pada abad ke-15 dan ke-16, Wali Sanga merupakan eksemplar Pribumisasi Islam. Fase ini merupakan gugusan awal dari tegaknya ekspresi keberagamaan yang ramah terhadap kebudayaan lokal. Sunan Bonang melakukan sintesis antara Islam dan kebudayaan lokal melalui tembang tombo ati dan memasukkan kisah-kisah Islam pewayangan Jawa. Langkah serupa dilakukan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, yang melestarikan kebudayaan lokal, baik yang bersumber dari tradisi Hindu maupun tradisi Jawa (Jurnal Tashwirul Afkar: 2003).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pribumisasi Islam dapat dirumuskan dalam tiga hal. Pertama, secara historis-sosiologis, Islam adalah agama yang lahir dalam ruang dan waktu. Kedua, tafsir atau hermeneutika merupakan metodologi yang paling efektif dalam akulturasi Islam dan kebudayaan lokal. Ketiga, dalam ranah politik dan ruang publik pada umumnya, Islam menganut prinsip kemaslahatan sebagai pijakan dalam menentukan sebuah kebijakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Revitalisasi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pribumisasi Islam yang mengakar kuat di bumi Nusantara merupakan salah satu potensi dalam rangka mengembangkan Islam rahmatan lil ’alamin. Ekspresi keberislaman yang moderat telah memungkinkan umat Islam membangun harmoni dengan kebudayaan dan tradisi agama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam konteks kekinian, umat Islam dapat menerima demokrasi dan hak asasi manusia sebagai instrumen untuk memperkuat tali kebangsaan dan kemanusiaan. Maka dari itu, diktum ”mempertahankan tradisi masa lalu yang baik sembari mengambil tradisi kemodernan yang lebih baik” (al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah) merupakan sebuah langkah yang tepat untuk membangun peradaban dan keadaban publik dalam konteks keindonesiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, perlunya mengembangkan paham keislaman yang senantiasa mendialogkan antara teks dan konteks. Pergulatan teks dan konteks yang dinamis akan melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif. Interaksi antara teks dan konteks akan membebaskan penafsir dari fanatisme terhadap teks dan fanatisme terhadap konteks. Pergulatan teks dengan konteks akan melahirkan pemikiran alternatif, khususnya dalam rangka menjadikan teks senantiasa relevan dengan konteks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kedua, mengembangkan paham keislaman yang mendorong terwujudnya kemaslahatan publik. Pemikiran keislaman sejatinya mendorong dan merespons kebijakan-kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan kemaslahatan publik. Sejumlah isu kontemporer, seperti terorisme, lingkungan, kemiskinan, buruh migran, perdagangan anak, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan lain-lain mesti direspons kalangan Muslim. Pemikiran keislaman harus lebih peka dalam merespons persoalan kebangsaan, kerakyatan, dan keumatan sehingga pemikiran keislaman tidak berada di menara gading.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketiga, mengembangkan paham keislaman yang mendorong pada kesadaran kewarganegaraan dan multikulturalisme. Faktanya, di sejumlah negara yang mayoritas penduduknya plural seperti di Tanah Air, problem perlindungan terhadap kalangan minoritas masih menjadi persoalan. Pemikiran keislaman kontemporer harus mampu memecahkan problem raibnya hak-hak kalangan minoritas dan mendorong terciptanya hak kewarganegaraan yang berlandaskan persamaan hak di depan hukum, sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan UUD 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Keempat, pemikiran keislaman kontemporer harus mampu mewujudkan kesetaraan dan keadilan jender. Problem dunia Islam modern, yaitu perlakuan diskriminatif terhadap perempuan, masih menjadi fenomena yang mengemuka. Sebab itu, perlu pemikiran keislaman yang secara serius mengonstruksi pentingnya kesetaraan dan keadilan jender.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa hal di atas merupakan langkah penting untuk mengembangkan Islam rahmatan lil ’alamin, yang merupakan jati diri Islam Nusantara. Kebhinekaan yang mewujud pada bangsa ini harus dilihat sebagai kekuatan untuk membangun peradaban dengan spirit keberagamaan yang toleran, humanis, dan berkeadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Karena itu, tahun 2011 harus dijadikan tahun toleransi antaragama dan komitmen untuk mengakhiri segala macam bentuk kekerasan atas nama agama.&lt;o:p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman; text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;oleh: Zuhairi Misrawi&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman; text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ketua Moderate Muslim Society; Kader Muda Nahdlatul Ulama&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-7111101256933502193?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/7111101256933502193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/01/revitalisasi-islam-rahmatan-lil-alamin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/7111101256933502193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/7111101256933502193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2011/01/revitalisasi-islam-rahmatan-lil-alamin.html' title='Revitalisasi Islam &quot;Rahmatan lil &apos;Alamin&quot;'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-8355059864043805806</id><published>2010-12-25T21:09:00.003+07:00</published><updated>2010-12-25T21:12:53.362+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>Pemuda sebagai Tongak Penerus Bangsa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNoSpacing" align="center" style="margin-left:0cm;text-align:center; text-indent:1.0cm"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;“KALAO PEMOEDA SOEDAH BERUMOER 21, 22 SAMA SEKALIE TAK BERDJUANG, TAK BERTJIETA-TJITA, TAK BERGIAT OENTOEK TANAH AIR DAN BANGSA, PEMOEDA JANG BEGIENIE BAEKNJA DIGOENDOELI SADJA KEPALANJA”&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" align="center" style="margin-left:0cm;text-align:center; text-indent:1.0cm"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;– PESAN BOENG KARNO –&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" align="center" style="margin-left:0cm;text-align:center; text-indent:1.0cm"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Mahsiswa merupakan sebuah tingkatan strata tertinggi didalam sebuah komunitas masyarakat, karena kemampuan mereka dalam menyelami berbagai ilmu pengetahuan yang tentunya nanti akan berdampak pada kemajuan sebuah peradaban dalam sebuah bengsa. Mahasiswa merupakan sebuah komunitas atau agen untuk merubah berbagai bentuk ketertinggalan, keterbelakangan dalam masyarakat menuju era yang tentunya lebih bermartabat dibanding sebelumnya. Tentunya disatu pihak kita sebagai kaum terpelajar yang selalu dianggap memiliki kapasitas keilmuan yang cukup memadai di berbagai bidang keahlian dibanding mereka yang tidak menyandangnya label “mahasiswa”. Tapi disatu pihak, kita sebagai seorang mahasiswa juga memiliki sebuah tanggung jawab besar, tanggung jawab yang tentunya akan kita hadapi untuk menyongsong masa depan negeri ini kearah pencerahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;&lt;font style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/font&gt;Sedikit saya ingin berbagi ingatan kepada kawan-kawan mahasiswa tentang sejarah para pemuda yang dengan gigih berjuang untuk mencapai sebuah pengakuan dunia bahwa Indonesia itu ada. Bertepan dengan bulan ini, pada tanggal 28 oktober, 81 tahun yang lalu, para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul menjadi satu dengan menanggalkan segala bentuk kedaerahan masing-masing dan melebur menjadi satu yaitu Indonesia. Tentunya kita semua masih ingat akan peristiwa yang sungguh sangat menkjubkan tersebut. Dari peristiwa agung tersebut, tentunya kita semua dapat mengambil sebuah contoh kegigihan para pemuda Indonesia saat itu untuk membentuk sebuah kesatuan yang kemudian ditindak lanjuti dengan perjuangan sampai pada titik darah penghabisan dan sampai memperoleh kemerdekaan. Tentunya itu bukan sebuah perjuangan yang mudah dilakuakan seperti halnya membalikkan tangan, tetapi butuk kerja pikiran dan seluruh organ dalam badan untuk mencapai sebuah kemenangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Dari sedikit cuplikan mengenai keberanian para pemuda tersebut, kita sebagai kaum intelektual juga sebagai pemuda Indonesia, sekarang ini tentunya harus lebih cermat lagi terhadap berbagai kondisi yang sedang melanda negeri ini. Selain kita belajar di kampus ini, setidaknya kita juga sedikit melirik terhadap berbagai persoalan yang sedang terjadi, mulai dari berbagai bencana alam yang melanda negeri ini, kondisi carut marut yang tak kunjung usai dalam pemerintahan republik ini, dan juga segala sesuatu yang kita jumpai disekitar kita. Itulah nantinya yang akan membedakan antara mahsiswa dengan pelajar yang lainnya. Bahwasanya seorang mahasiswa tidak hanya mementingkan pencpaian gelar akademik, tetapi juga kepedulian dan kontribusi kita semua terhadap lingkungan yang ada di sekitar kita atau masyarakat kita dan lebih jauh lagi terhadap Tanah Air ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Tidak dapat saya pungkiri memang benar, zaman in adalah zaman yang sangat sulit untuk mencari sebuah penghidupan, dan kita semua disini juga dituntut untuk cepat menyelesaikan studi dan segera mendapatkan penghasilan yang layak. Saya tidak menafikkan itu semua, tetapi apakah dengan proses yang begitu cepatnya ada sebuah jaminan bahwa nantinya setelah selesai kita akan langsung menggenggam pekerjaan yang banyak memberi materi kekayaan pada kita?? Itu masih menjadi sebuah tanda tanya besar yang mengisi otak saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Kawan-kawan mahsiswa, setidaknya kita sadar diri akan status kita sebagai mahasiswa yang tentunya seperti telah saya sebutkan diatas bahwa kita semua memliki tanggung jawab ganda. Selain tanggung jawab kita untuk tetap semangat dalam belajar, kita juga harus memiliki semangat juang untuk mengentaskan kebobrokan yang terjadi di sekitar kita entah itu dalam bentuk apapun. Kita dapat mencontoh berbagi tokoh pejuang yang sampai detik inipun masih tetap mengabdikan diri mereka demi sebuah “kebebasan” hakiki. Sebenarnya kontribusi riel macam itulah yang sangat ditunggu-tunggu berbagai pihak, berbagai elemen dalam masyarakat. Bukan status gelar kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Sunguh ironis ketika kita memeprhatikan mahasiswa yang hanya mementingkan kepentingan individual mereka tanpa mau sedikitpun berpaling pada kondisi nyata yang ada disekitar mereka. Sepertinya efek dari ideologi pragmatis – kapitalis telah benar-benar tertanam pada diri mahasiswa macam ini. Mahsiswa yang hanya mencri nilai, mencari kesenangan tanpa peduli kawan-kawan lain yang meronta kesakitan, tanpa mau peduli hiruk pikuk yang terjadi dalam sebuah tatanan masyarakatnya yang berujung pada penentuan nasib mereka juga. Apakah kita hanya akan hidup sendiri di dunia ini kawan? Tentunya kita akan hidup menjadi bagian dari lingkungan kita bukan? Kita akan selalu bersentuhan dan berdampingan dengan masyarakat kita. Kita tidak bisa memungkiri itu semua. Bahwa kita adalah bagian integral dari susunan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Pemuda adalah sebuah aset yang yang sangat menggiurkan bagi para orang-orang yang ingin mengembangkan bisnis mereka. Bila kita tidak bangkit mulai dari sekarang, selamnya kita tentu akan selalu dijadikan alat untuk mereka dalam menumpuk kekayaan mereka. Apa kita mau hanya menjadi budak dinegeri kita sendiri? Apa kita mau menjadi seperti seekor hewan buas yang dicolok hidungnya? Yanmg hanya tunduk-manut terhadap kondisi yang semakin hari semakin carut marut seperti ini? Saya yakin 100% bahwa kita semua tidak mau dijadikan alat. Tetapi bagaimana nantinya kita mampu mengemabangkan diri kita semaksimal mungkin untuk mencapai kehidupan layak bagi kita, bagi saudara-daudara kita, bagi kekasih kita dan bagi siapaun yang kita sayangi didunia ini. Untuk itu mulailah bergerak untuk merubah keadaan untuk lebih baik dibanding saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Dalam tubuh seorang pemuda, terdapat semangat yang berkobar-kobar untuk membuktikan dirinya kepada dunia akan eksistensinya. Tapi apakah semangat macam itu ada pada diri kita, ketika kita tak lagi mau tahu terhadap nasib sesama? Apakah eksistensi tersebut akan muncul, jika kita hanya berangkat ke kampus, isi absen kemudian dapat nilai “A”, kemudidan pulang lagi kerumah, tidur, maen-maen dan bersenang-senang. Jika pemuda bangsa ini hanya seperti itu maka “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;fantadhiru as sa’ah”&lt;/i&gt;, kehancuran bangsa ini akan semakin cepat, kharisma bangsa ini akan semakin hilang dimata dunia. Kita semua para pemuda atau&lt;font style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/font&gt;lbih tepatnya yang menyandang status mahasiswa merupakan agen perubahan tatanan masyarakat. Kita adalah pilar terdepan dalam mengontrol kehidupan masyarakat kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Kesadaran dari tiap-tiap kita untuk selalu perduli terhadap isu-isu yang berkembang dalam masyarakat nantinya akan sangat mempengaruhi kemana arah kita akan bergerak. Semoga semangat pemuda yang pada era perjuangan melawan colonial mampu kita tumbuh kembangkan lagi sehingga mampu berkobar dengan hebatnya dan hadir kembali dalam jiwa kita semua, sehingga semangat untuk kembali menunjukkan keagungan Indonesia di mata dunia akan semakin berkobar di dalam jiwa putra-putri ibu Pertiwi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:0cm;text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font lang="EN-US" style="font-family:&amp;quot;Courier New&amp;quot;"&gt;Semoga Tuhan merestui!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" align="right" style="margin-left:0cm;text-align:right; text-indent:1.0cm"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" face="'Courier New'"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-8355059864043805806?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/8355059864043805806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/12/pemuda-sebagai-tongak-penerus-bangsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/8355059864043805806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/8355059864043805806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/12/pemuda-sebagai-tongak-penerus-bangsa.html' title='Pemuda sebagai Tongak Penerus Bangsa'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-7108334876215096125</id><published>2010-12-15T12:25:00.000+07:00</published><updated>2010-12-15T12:26:26.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Agama Yang Mendamaikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word  12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMulyono%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMulyono%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMulyono%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;Indonesia merupakan sebuah negara yang terbentuk  dari berbagai macam suku, ras, etnik, agama serta budaya. Kekuatan yang  majeuk tersebut tentunya dapat menjadi sebuah kekauatan sosial dan  sebuah kumpulan yang indah apabila antara satu dengan yang lainya dapat  saling bahu-membahu, saling bekerjasama untuk dapat membangun negara.  Namun dilain pihak, kemajemukan tersebut akan menjadi sebuah kekuatan  penghacur dari dalam apabila keragaman yang ada tidak dibina dan  dikelola secara tepat. Keragaman yang sudah ada semenjak negara ini  dilahirkan dapan memicu konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan  dan menghacrkan sendi-sendi kehidupan negara Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;Para &lt;i&gt;foundig&lt;/i&gt; &lt;i&gt;father&lt;/i&gt; negara ini telah  bersepakat ketika membentuk negara ini menjadi sebuah negara yang  mengesampingkan perbedaan yang ada sehingga dapat terwujud sebuah negara  yang tangguh yang disegani oleh dunia. Presiden Soekarno saat itu  bersikeras menepis segala perbedaan yang ada. Soekarno beserta tokoh  lain pemersatu bangsa saat itu menolak dengan tegas berdirinya negara  yang berdasarkan atas asas islam atau agama lainnya karena dalam diri  Indonesia tidak hanya hidup orang-orang yang memiliki satu agama, selain  itu tentunya hal ini juga memici disintegrasi bangsa Indonesia dan  perpecahan dalam tubuh Indoneisa yang saat itu masih sangat muda.  Perbedaan yang ada mencoba untuk disatukan dengan Pncasila dan  Undang-Undang Dasar yang telah ibentuk saat itu sebagai dasar negara. &lt;i&gt;Bhineka  Tunggal Ika Tan Hanna Darma Mangroa&lt;/i&gt; – berbeda-beda tetapi tetap  satu jua untuk mewujudkan satu tujuan yang sama, itulah semboyan yang  digagas &lt;i&gt;founing father&lt;/i&gt; bangsa Indonesia yang diambil dari seorang  empu di zaman Majapahit, Empu Tantular, yang saat itu juga sedang  bercita-cita menyatuan Nusantara dengan menepis segala perbedaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Keanekaragaman Indonesia kemudian dikenali,  diakui dan dikukhkan didalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi  pedoman keidupan bangsa Indonesia secara menyeluruh dan yang berlaku  hingga saat ini. Sebagai realisasi dari rumusan abstrak pengenalan,  pengakuan dan pengukuhan keanekaragaman tersebut, dibangun berbagai  program pendokumentasian, pemahaman dan pelestarian aneka budaya  Indonesia sebagaiman tampak pada masa Orde Baru meski pada akhirnya  paham multikulturalisme yang ada pada saat Orde Baru sempat  disalahgunakan sehingga menjurus pada paham monokultural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;Keanekanganragaman yang memperkaya budaya bangsa ini  tentunya sangat disayangkan apabila dikemudia hari menjadi pemicu  konflik yang meretakkan sendi kehidupan bangsa Indonesia. Hal semacam  ini tentunya tidak kita inginkan, karena apabila terjadi serangan dari  luar tentunya akan mudah mengoyak kita semua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kita mengenal adanya lima agama  besar yang kemudian ketia KH Abdurahman Wahid atau lebih kita kenal  dengan Gus Dur menajbat sebagai pimpinan tertinggi negeri ini, beliau  meresmikan Konghucu sebagai salah satu agama nasional. Dengan adanya  perbedaan yang sudah menjadi sunatullah tersebut, seharusnya kita dapat  merenung bersama bahwa itu adalah tanda kekuasaan Tuhan Yang maha Esa.  Tak sepatutny kita hanya mencari perbedaan yang akan berujung pada  kehancuran negara ini. Dalam hal ini seharusnya para petinggi agama  menjadi pengayom bagi umatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Keba&lt;/font&gt;n&lt;font style="" lang="IN"&gt;yakan para penganut  dari masing-masing agama masih cenderung bersikap ekslusif dan belum  bisa menerima perbedaan yang ada. Mereka yang mencoba untuk sadar,  dituding dan dianggap keluar dari konteks keimanan mereka. Mereka  dianggap megakui agama berdasarkan paham relatifisme. Hal ini sangatlah  mengecewakan sekali. Kita semua tidak mungkin dapat menumbuhkan semangat  kebersamaan dalam wadah Indonesia Raya jika masing-masing individu  masih terjebak dalam alur masa lalu. Masa dimana pertentangan agama  masih sangat sering terjadi, masa benturan fisik yang menelan jutaan  nyawa manusia sebagi korbanya atas dasar membela agama mereka&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;yang mereka anggap paling benar. Agama sebagi kendali  utama dalam kehidupan bermasyarakat tentunya haruslah kita pelajarii  secar seksama, kita semua sebagi pmeluka agama lebih jeli dalam memahami  agama kita masing-masing. Agama diturunkan bukanlah utuk menghakimi  pemelukk agam lain, tetapi agam diturunkan adalah untuk menciptakan  kehidupan yang harmonis untuk tiap makhluk yang hidup di alam semesta  ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan  agama-agama di Indonesia belum berdampak positif terhadap kebangsaan,  malah menjadi sebuah faktor kemunduran hidup berbangsa. Agamawan lebih  tertarik mengembangkan teologi yang menguatkan identitas kelompok.  Teologi yang berkarakteristik aliran. Dari umat untuk umat. Bukan dari  umat untuk bangsa. Bangsa direduksi menjadi umat. &lt;/font&gt;&lt;font style="" lang="ES-EC"&gt;Dan, kebangkitan umat tidak serta-merta kebangkitan bangsa.  Agama dipropagandakan mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Umat  didorong menjadi fanatik seolah fanatisme berkorelasi dengan  kesejahteraan. Maraklah simbol-simbol dan pernak-pernik agama.&lt;/font&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;Untuk  menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi, kita perlu menanamkan kepada  genarasi muda saat ini megenai asas kebersamaan yang harus dijunjung  tinggi bagi setiap warga negara. Salah satu cara yang sangat efektif  adalah melaui media pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu mengenalkan kepada genersai saat ini, bahwa Indonesia  terbentuk melalui persatuan dari berbagai unsur agama, ras, budaya,  bahasa dari Sabang sampai Merauke. Kita perlu menggagas pendidikan agama  yang sifatya tidak lagi mendoktrin atau sekedar dogma-dogma kepada  pemeluknya tentag ekslusifisme agama yang nantinya akan menumbuhkan  sifat fanatisme dalam beragama. Tentang aqidah dan kepercayaan memang  dan sudah pasi hal ini sangat berbeda antara agama satu dengan agama  lain. Tetapi &lt;/font&gt;perbedaan &lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;semacam  ini tidak perlu kita ungkit-ungkit kembali. Pendidikan haruslah dapat  menumbuhkan sikap toleransi dan saling memahami terhadap perbedaan yang  memang telah digariskan oleh Tuhan. Tetapi ironisnya pendidikan agama  yang seharusnya menjadi pioner dalam mengembangkan sikap toleransi atas  dasar persamaan sebagai hamba Tuhan masih bersifat dktrin-doktri yang  banyak menimbulkan kebencian atau akhirnya hanya menumbuhkan sikap  fanatisme kepada kepercayaan mereka masing-masing. Pendidikan agama  semacam ini harus sedikit demi sedikir dirubah karena salah satu pesan  yang ditekankan oleh semua agama adalah pentingnya penciptaan perdamaian  berdasarkan prinsip persamaan dan kesatuan manusia. Pesan dasar semacam  ini tampaknya belum menjadi rujukan kolektif bagi semua pemeluk agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang hanya berisikan dogma yang hanya  meyakini kebenaran tunggal semacam itu sedikit demi sedikit haruslah  kita ubah menuju pendidikan yang mengenalkan kepada generasi selanjutnya  akan pentingnya toleransi dalam kehiupan dalam sebuah kmunitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="" lang="IN"&gt;Pendidikan agama yang berwawasan multikultural perlu  kita rancang dan kita tindak lanjuti sebagai media dan sarana untuk  meredakan konflik berkepanjangan yang terjadi di negeri ini dan juga  sebagai pengenalan kepada generasi selanjutnya terhadap perbedaan yang  sudah menjadi sunatullah dan tidak bisa kita pungkiri lagi tetapi kita  perlu cari titik temu dari perbedaan yang ada sehingga dapat tercapai  kehidupan yang harmonis dalam masyarakat dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-7108334876215096125?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/7108334876215096125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/12/pendidikan-agama-yang-mendamaikan_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/7108334876215096125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/7108334876215096125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/12/pendidikan-agama-yang-mendamaikan_14.html' title='Pendidikan Agama Yang Mendamaikan'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1527057721315113858.post-9032643010981235054</id><published>2010-08-14T16:15:00.000+07:00</published><updated>2010-11-21T23:48:37.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOSIAL BUDAYA'/><title type='text'>Luka Nasionalisme</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Pilar Nasionalisme&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;MOMENTUM proklamasi kemerdekaan pada 17 agustus 1945 merupakan titik yang sangat signifikan bagi kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk merekatkan elemen-elemen yang berbeda dalam satu naungan negara-bangsa yang bernama Indonesia yang telah lama tumbuh selama puluhan tahun dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda.Dari momentum proklamasi kemerdekaan tersebut, paling tidak terdapat dua faktor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia. Pertama, pemuda yang menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi tonggak perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi penggerak perubahan sejarah Indonesia. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama: memajukan Indonesia, dapat disepakati, dan diimplementasikan secara bersama. Komitmen dan ketulusan daerah dalam proses terbangunnya bangsa ini sangat tidak pantas untuk dipertanyakan kembali. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Substansi Nasionalisme Indonesia yang dibangun saat itu mempunyai dua unsur yang sangat penting: Pertama; kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku, etnik, dan agama. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bumi Indonesia. Semangat dari dua substansi tersebutlah yang kemudian tercermin dalam Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dengan jelas dinyatakan “atas nama bangsa Indonesia”, sedang dalam Pembukaan UUD 1945 secara tegas dikatakan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Segala bentuk penjajahan dan penindasan di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Imperialisme yang begitu dahsyatnya telah menghancurkan tatanan kehidupan bangsa benar-benar telah menumbuhkan semangat untuk bersatu. Dengan demikian lahirnya bangsa Indoensia, meluap dari hati nurani yang ingin bebas, merdeka, menikmati otonomi individunya dalam kehidupan semesta. Kesadaran inilah yang telah membangun tekad founding fathers untuk menyatukan kepelbagaian kelompok-kelompok yang ada di bumi nusantara ini, menjadi suatu bangsa yaitu Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Pemuda dan Nasionalisme&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Teriakan kata “Merdeka” untuk menyambut hari peringatan kemerdekaan terdengar dari seantero nusantara. Indonesia baru saja merayakan pesta besar nasional, pesta kemerdekaan, pesta ulang tahun deklarasi proklamasi kemerdekaan indonesia yang ke 65. Tak terasa ternyata sudah cukup lama negeri ini menyandang status merdeka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita semua rakyat Indonesia tentunya bangga dengan peran para pejuang yang telah menyumbangkan dan berperan aktif dalam membentuk dan mengankat harkat dan martabat negara Indonesia sehingga dunia mengakui eksistensi Indonesia Raya. Tanpa mereka semua dan tanpa adanya dukungan dari seluruh rakyat nusantara dan elmen bangsa tentunya hal itu akan sangat sulit untuk terwujud. Itulah sedikit makna yang terkandung dalam peringatan kemerdekaan yaitu mengingat kembali akan kerja keras para pendahulu, para founding father bangsa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;65 tahun sudah kita merasakan kemerdekaan ini, perang fisik yang dulu dengan sangat gencar dilakukan oleh seluruh penghuni Ibu Pertiwi untuk merebut bangsa ini dari tangan kotor kolonialisme untuk mencapai kemerdekaan kini tak lagi terjadi. Tapi dibalik itu semua kita yang memiliki tanggung jawb bersama untuk selalu mejaga keutuhan bangsa Indonesia telah banyak terlena dan hanyut dalam status kemerdekaan ini sehingga banyak dari diri kita tak lagi tahu apalagi mengenal akan jasa luhur para founding father republik Indonesia. Kita telah dibutakan oleh zaman yang serba indah untuk di rasakan dalam waktu dekat ini, tapi kita tak lagi tahu apa nasib kedepan bangsa ini. Pragmatisme, individualisme telah merasuk sampai ke jantung negeri ini. Bangsa yang dulu banyak disegani karena keramah-tamahannya kini tak lagi dapat menunjukkan sikap ramah kepada siapapun, bahkan antar sesama penghuni bangsa. Sungguh hal ini adalah hal yang sangat ironis, yang patut kita tata ulang lagi agar semua elmen bangsa ini menyadari kembali akan jati diri bangsa Indonesia. Moralitas bangsa kita saat ini benar-benar dipertanyakan. Ada sepenggal kisah menarik tentang “moral’ yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“... kemarin saya melihat moral disebuah etalase sebuah toko. Harganya seribu rupiah. Tapi karena saya tertarikdengan rok kulit mini seharga satu juta sembilan ratus smbilan puluh delapan ribu delapan ratus rupiah, ahirnya saya menunda untuk membeli moral...”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para pemuda indonesia, kita semua adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;agent of change&lt;/span&gt; negeri ini. Kita semua yang diberi kelebihan berupa fisik yang masih cukup kuat, otak yang masih cemerlang untuk menggagas masa depan, untuk berpikir tentang nasib kedepan negara ini, kita semua harus mulai menyadari bahwa bangsa ini telah dirong-rong malapetaka dari dalam diri sendiri. Kita terlalu silau oleh kemerdekaan yabg bekum seutuhnya terealisasikan sehingga kita enggan untuk meraih kemerdekaan hakiki itu sendiri, kemerdekaan jiwa dan diri kita dari kolonialisme gaya baru yang telah tersebar seperti virus dan kuman penyakit yang menggeragoti ibu pertiwi. Tentunya kita semua mengetahui, seakan-akan bangsa ini kini di rundung duka yang amat mendalam, dimulai dari banyaknya bencana yang melanda daerah-daerah di tanah air, banyaknya kemiskinan yang dibarengi penurunan moral dan banyaknya pengangguran yang mengakibatkat tingkat kriminalitas meningkat, tumbuh dan berkembangnya ideologi yang siap mengganti asas dasar indonesia – Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 – dan tentunya masih banyak lagi hiruk pikuk yang semankin menurunkan harkat martabat negeri ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kawn-kawan...tentunya kita takkan pernah melupakan bahwa untuk sebuah status merdeka, darah telah banyak ditumpahka oleh para leluhur kita dan itupun tidak dengan waktu yang singkat. Butuh puluhan tahun agar dunia mengetahui eksistensi kebesaran negara ini. Tentunya sudah menjadi keniscayaan bagi kita semua untuk tetap menjaga dan meneruskan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita tersebut. Mungkin ada benarnya yang dikatakan bapak proklamator kita, Soekarno “ perang yang kami lakukan lebih mudah dibanding kalian karena perang kami mengusir penjajah sedang perang yang akan kalian lakukan adalah perang melawan bangsa sendiri.” Ini tentu dapat dijadikan pedoman untuk kita semua, agar kita selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang ada sat ini, mungkin sat in yang ada di samping kita adalah teman tapi kita tak tahu, apakah selamanya dia akan tetap menjadi teman?? Ini bukan prasangka tanpa dasar, in didasarkan pada kenyataan banyaknya anggota dewan yang sebelum ia dipilih, dengan lantangnya ia berteriak untuk memperjuangkan tetapi setelah terpilih ia kemudian secara sengaja melupaka janji mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebentar lagi kita akan memperingati hari dimana Indonesia menjadi tumpah darah kita semua, kita para pemuda tentunya harus lebih memberi apresiasi terhadap peringatan itu, karena 82 tahun yang lalu, para wakil dari berbagai bangsa yang ada di Indonesia berkumpul bersama untuk mermusyawarah tentang penyatuan segala unsur bangsa ini menjadi Indonesia Raya. Sumpah Pemuda, harusnya memberi motivasi kepada kita semua para pemuda Indonesia untuk bisa lebih aktif, lebih produktif mnjalankan amanat dan cita-cita Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945. Revolusi belum selesai kawan....&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1527057721315113858-9032643010981235054?l=kakikulinu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kakikulinu.blogspot.com/feeds/9032643010981235054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/08/nasionalisme-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/9032643010981235054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1527057721315113858/posts/default/9032643010981235054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kakikulinu.blogspot.com/2010/08/nasionalisme-indonesia.html' title='Luka Nasionalisme'/><author><name>Ipnu Auliya Rohman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07233093635197509116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_g4fuhV_RAvw/TOj3pZY14wI/AAAAAAAAAC0/XnuJSUyhEw8/S220/23642_1164551372396_1786244547_330391_1560869_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
